SuaraFakta.com – Sebuah cuitan yang menghebohkan dari akun Twitter (X) baru-baru ini menggugah perbincangan tentang body shaming yang dilontarkan terhadap salah satu pasangan calon presiden (capres) pada tahun 2024.
Fenomena body shaming, yang mengarah pada penghinaan terhadap penampilan fisik seseorang, telah menjadi hal lumrah dalam ajang kontes pemilihan umum.
Sebelumnya, seorang anak dari salah satu pasangan calon presiden tahun 2024 juga menjadi sasaran body shaming.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Anak tersebut dikritik atas rambut keriting dan warna kulitnya yang cenderung kecokelatan.
Namun, belakangan muncul cuitan dari akun X yang menyebut salah satu pasangan calon presiden dengan sebutan ‘ndut’ (gendut).
Perilaku Body Shaming Ternyata, perundungan tidak hanya menimpa kaum muda, tetapi juga berlaku untuk semua kalangan usia.
Komentar negatif terhadap penampilan seringkali diucapkan tanpa memperdulikan kepada siapa komentar tersebut ditujukan.
Di era modern seperti sekarang ini, body shaming seringkali terjadi melalui media sosial, meskipun tidak secara langsung.
Sebuah contoh adalah akun X @veenarooth yang pada tanggal 16 Februari menulis, “Laper banget mana makan siangnya ndut.”
Unggahan tersebut segera menjadi viral dan mendapat berbagai reaksi dari banyak orang, termasuk YouTuber Ria Ricis.
“Dia bukan untukmu, Mbak,” balasnya.
Makna Body Shaming Body shaming merujuk pada komentar atau ucapan yang tidak pantas dan negatif tentang ukuran atau bentuk tubuh seseorang.
Tidak hanya menyoroti orang yang memiliki berat badan berlebih, body shaming juga bisa menimpa mereka yang dianggap memiliki kekurangan berat badan.
Tindakan body shaming dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang tua, saudara, teman, bahkan orang yang tidak dikenal, baik secara langsung maupun melalui internet dan media sosial.
Dampak Body Shaming Perlakuan body shaming dapat berdampak buruk bagi korbannya.
Mereka yang menjadi korban body shaming mungkin merasa tidak aman dan tidak nyaman dengan diri mereka sendiri.
Akibatnya, mereka dapat merasa minder, sedih, pesimis, bahkan mengalami depresi.
Selain itu, body shaming juga dapat mengarah pada perilaku yang tidak sehat seperti anoreksia, bulimia, olahraga berlebihan, dan lain-lain, serta masalah kesehatan mental seperti gangguan dismorfik tubuh, kecemasan, depresi, dan lain-lain.
Tidak hanya itu, body shaming juga dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik seseorang.
Menurut penelitian, lebih dari 70% remaja pernah mengalami body shaming terkait berat badan, yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikologis mereka.
Sumber Berita : suratdokter