SuaraFakta.com – Ketika Zionis memulai tindakan kekerasan terhadap masyarakat Palestina untuk mendirikan negara Israel pada tahun 1948, tragedi tersebut menciptakan gelombang kejutan di seluruh dunia Arab.
Negara-negara Arab yang tengah berjuang melawan penjajahan kolonial menyuarakan kecaman mereka, menjadikan perjuangan pembebasan Palestina sebagai agenda bersama. Namun, seiring dengan penguatan ekonomi rezim-rezim Arab, semakin berkuranglah minat para pemimpin mereka untuk terlibat dalam perjuangan demi Palestina.
Tingkat pengabaian terhadap masalah Palestina secara langsung terkait dengan ketergantungan politik rezim Arab pada Amerika Serikat (AS), yang menjadi pendukung utama Israel dan proyek kolonial mereka. Saat ini, situasi Palestina menjadi sorotan dalam politik Arab, di tengah normalisasi hubungan beberapa negara Timur Tengah dengan Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Alih-alih mengutuk Israel, pemimpin Arab cenderung menyalahkan perpecahan politik Palestina antara Fatah dan Hamas atas penderitaan yang menimpa rakyatnya. Bahkan, sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Yordania, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Sudan, Maroko, Mauritania, dan Djibouti menolak untuk memberlakukan embargo minyak ke Israel.
Pada tahun 1977, Presiden Mesir Anwar Sadat, beberapa bulan sebelum mengunjungi Israel, mengungkapkan bahwa AS memiliki “99 persen kendali” di Timur Tengah. Kunjungannya ke Israel bertujuan membuka jalan bagi perjanjian damai antara Mesir dan Israel, dengan AS sebagai penengah.
Runtuhnya Uni Soviet 14 tahun kemudian semakin memperkuat ketergantungan Arab pada AS, memberikan AS kendali penuh dalam upaya perdamaian di kawasan tersebut.
Dengan begitu, pemimpin Arab kehilangan ruang untuk berkontribusi secara positif terhadap keputusan yang melibatkan Palestina. Prioritas negara-negara Arab lebih cenderung terfokus pada hubungan baik dengan AS, dengan Palestina hanya menjadi poin sekunder.
Normalisasi antara beberapa negara Arab dan Israel di bawah pimpinan Donald Trump hanya menguatkan keyakinan bahwa perjuangan Palestina semakin terabaikan.
Kesepakatan Abraham, meskipun dijanjikan “keuntungan,” tidak memberikan manfaat nyata bagi rakyat Palestina atau aspirasi nasional mereka. Normalisasi hubungan Arab dengan Israel justru memperkuat posisi Israel dalam menindas Palestina dan membuka jalan bagi aneksasi de facto atas Tepi Barat yang telah diduduki.
Sikap agresif Israel terhadap rakyat Palestina, yang semakin meningkat, mencerminkan keyakinan mereka bahwa mereka dapat melakukan kejahatan perang dan melanggar hak asasi manusia tanpa sanksi yang signifikan.
Respons terbesar dari pemerintah negara-negara Arab hanyalah kecaman dan protes, tanpa tindakan konkret yang dapat memberikan perlindungan kepada rakyat Palestina.
Sumber Berita : Al Jazeera