suarafakta.com – Perhatian publik saat ini tertuju pada penyakit antraks setelah tiga orang di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, meninggal dunia setelah mengonsumsi daging sapi yang diduga terinfeksi antraks.
Diketahui bahwa daging sapi tersebut memiliki riwayat penyakit antraks yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia.
Siti Nadia Tarmizi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), menjelaskan bahwa dari tiga korban yang meninggal di Gunungkidul, satu orang telah teridentifikasi positif terinfeksi antraks, sementara dua orang lainnya meninggal dengan gejala yang mengarah pada antraks.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibat kejadian ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengirimkan surat usulan penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait penyebaran penyakit antraks di wilayah tersebut kepada bupati setempat.
Dewi Irawaty, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, menyampaikan bahwa dalam surat usulan tersebut dijelaskan bahwa penyebaran antraks di wilayah tersebut sudah memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai KLB, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1501 tahun 2010.
“Dalam surat usulan kepada bupati, kami telah menyampaikan semua informasi yang diperlukan. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pimpinan,” kata Dewi seperti yang dikutip dari Antara.
Dewi menambahkan bahwa hingga saat ini, Dinas Kesehatan Gunungkidul belum menerima informasi atau perintah resmi terkait penetapan KLB Antraks di wilayah tersebut.
Dalam menghadapi situasi ini, penting bagi masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam mengonsumsi daging sapi serta produk olahannya. Upaya pencegahan dan edukasi mengenai antraks juga harus ditingkatkan agar masyarakat dapat lebih memahami risiko yang ada dan mengambil langkah-langkah yang tepat guna melindungi diri mereka sendiri dan keluarga dari penyakit ini.
Untuk mendapatkan informasi terbaru dan berita fakta harian terkini silahkan ikuti kami di Google News