SuaraFakta.com – Pada pagi Jumat (12/1/2024), kelompok Houthi mengumumkan bahwa Amerika Serikat, Inggris, dan Israel telah memulai serangan di Yaman.
Abdulsalam Jahaf, juru bicara Houthi, mengungkapkan bahwa serangan tersebut telah mencapai beberapa kota, termasuk Sanaa.
Meskipun Washington dan London belum merilis pengumuman resmi, beberapa media Inggris dan Amerika melaporkan rencana serangan ini sejak Kamis malam, mengutip sumber anonim di Gedung Putih dan 10 Downing Street.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dengan ini disampaikan bahwa Amerika, Inggris, dan Israel telah meluncurkan serangan di Hodeidah, Sanaa, Dhamar, dan Saada,” demikian yang dikatakan Jahaf melalui X.
“Houthi berkomitmen untuk menanggapi dengan tegas, Insya Allah,” tambahnya.
Berdasarkan laporan Reuters, setidaknya ada tiga ledakan yang terjadi di Sanaa.
Ansar Allah, yang lebih dikenal sebagai kelompok Houthi, menyatakan solidaritas dengan Gaza pada akhir Oktober sebagai respons terhadap serangan Israel di wilayah Palestina tersebut.
Sejak saat itu, mereka telah melaksanakan lebih dari 20 serangan terhadap berbagai kapal di Laut Merah, jalur perdagangan utama yang menghubungkan Eropa dan Asia melalui Terusan Suez.
Dampaknya terasa pada perubahan rute kapal oleh perusahaan pelayaran besar di sekitar Afrika, yang berdampak pada kenaikan harga dan biaya asuransi.
Pada hari Selasa, Komando Pusat AS melaporkan bahwa kapal dan pesawatnya telah berhasil menembak jatuh lebih dari 20 rudal dan drone yang diarahkan pada kapal-kapal di Laut Merah.
Menyikapi situasi tersebut, Menteri Pertahanan Inggris, Grant Schapps, menyatakan, “Kita tidak dapat membiarkan jalur laut utama, yang merupakan sarana kunci untuk pergerakan barang dunia, terganggu oleh tindakan teroris dan preman. Oleh karena itu, kita harus bertindak.”
Jahaf menanggapi ancaman dari Washington dan London dengan menyatakan di X bahwa Houthi akan menanggapi setiap agresi Amerika. “Kami akan membuat Amerika menyesal dan menghancurkan kekuatan militer dan pangkalan mereka, serta semua yang terlibat, tanpa memandang biayanya,” ujarnya.
“Dunia harus bersiap untuk menyaksikan kekalahan Amerika. Kami akan menginjakkan kaki di atasnya dengan bangga, dan mereka yang mengabaikan kami akan mengetahui kekuatan kami di medan perang,” tambah Jahaf.
Sejak tahun 2015 hingga 2023, Houthi telah berjuang melawan koalisi regional yang dipimpin oleh Arab Saudi yang berupaya mengembalikan kekuasaan pemerintah sebelumnya di Yaman, dengan dukungan intelijen dan pasokan militer dari Amerika Serikat.